Dukung Ketersediaan Juknis Lokalita, Tim KM Bertandang ke BPT
Minut - BRMP Sulawesi Utara menugaskan Tim Knowledge Management (KM) turun lapangan. Tujuannya untuk mengumpulkan bahan-bahan dalam penyusunan juknis atau materi kegiatan ICARE lokalita lingkup Sulawesi Utara. Tim KM Lydia Tulung, Suratini dan Dina Sulistyo Wibowo melaksanakan kegiatan tersebut selama 2 hari, yaitu Selasa (4/11) dan Rabu (5/11).
Lokasi yang dikunjungi, selain BRMP Tanaman Palma, juga lokasi BPT (Blok Penghasil Tinggi) sebagai penyedia PIT (Pohon Induk Terpilih). Lokasi BPT didasarkan pada area yang memiliki potensi kelapa, dalam kegiatan ini khususnya di Kabupaten Minahasa Utara (Minut).
Pelaksana CG (Competitive Grant) pengembangan kebun kelapa benih sumber kelapa terstandar, bagian evaluasi dan seleksi pohon induk, Engelbert Manaroinsong menjelaskan persyaratannya. Penentuan pohon induk tidak lagi mengerucut pada batas umur pohon kelapa 15 tahun, melainkan pada status produktivitas pohon itu sendiri.
Selanjutnya, penentuan BPT didasarkan juga pada keseragaman pertanaman dan luasan lahan minimal 2 ha serta hasil minimal 2 ton/ha/tahun. Dan lokasi yang telah dievaluasi BRMP Tanaman Palma meliputi 3 kecamatan, yaitu Talawaan, Kalawat, dan Dimembe.
Dari 3 lokasi yang dievaluasi, seleksi hingga menghasilkan calon PIT hanya mengerucut pada Kecamatan Kalawat dan Talawaan. Kondisi lapangan sangat berbeda dengan rekomendasi yang ada. Dimana untuk luasan 1 ha memiliki jumlah tanaman sebanyak 100 pohon, sedangkan di lapangan jumlah tersebut tersebar pada luasan 2 hingga 3 ha.
Gambaran di kedua kecamatan tersebut sangat berbeda status kepemilikan lahannya. Di Talawaan, lokasi BPT yang diperoleh tepat berada di lahan anggota Koperasi Usaha Tani Warisa, yaitu Luis Dumanaw dan Deky Pulinehang.
Koperasi yang tergabung dalam ICARE tersebut menaungi 4 kelompok tani (poktan). Poktan-poktan mencakup Mapalus, Beriman, Sukamaju, dan Gotong Royong.
Koperasi tersebut bergerak dalam bidang pengolahan minyak kelapa. Dengan sasaran pemasaran di warung-warung yang tersebar tidak hanya di wilayahnya, tetapi juga di Kecamatan Wori. Dan targetnya 10 botol ukuran 600 ml per warung setiap 2 hari.
Beda dengan Kalawat, lokasi BPT yang memenuhi kriteria berada di lahan petani di luar koperasi, meski masih dalam wilayah kegiatan ICARE. Lokasi tersebut tersebar di dua desa, yaitu Kuwil dan Watutumou dengan luasan 5 ha dan 6 ha.
Koordinator BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) Kalawat, Altje Mongi menjelaskan umur pohon kelapa di lokasi tersebut rata-rata di atas 30 tahun, tetapi masih produktif. Dimana panen kelapa dilakukan tiap 3 bulan.
Pemasarannya berjalan lancar, karena terdapat pedagang pengumpul di kecamatan tersebut. Apalagi harga kelapa di tahun 2025 ini merangkak dari Rp. 2000,-/butir menjadi Rp. 8000,-/butir. Dongkrakan tersebut terjadi atas kontrak pengiriman kelapa ke negeri sakura.
Identifikasi dan pengambilan data di Kalawat berjalan lancar, dengan pendampingan tim penyuluh BPP-nya. Dan calon PIT yang terkumpul di dua kecamatan tersebut sebanyak 400 pohon dengan proporsi 50:50.
Jumlah tersebut masing sangat kurang, apalagi untuk dukungan Kegiatan Hilirisasi Kementan dalam peremajaan nasional sebanyak 150 ribu ha untuk jangka 2 hingga 3 tahun.
Engelbert menegaskan kegiatan penentuan calon PIT akan dilanjutkan tahun depan sebagai strategi dalam mencukupi kebutuhan peremajaan nasional, khususnya lingkup Sulawesi Utara sebanyak 28 ribu ha.
Engelbert juga menjelaskan keberadaan kegiatan penentuan benih sumber kelapa sangat menguntungkan petani pemilik lahan tersebut. Selain kelapa dipasarkan sebagai kopra, juga untuk ketersediaan benih sumber.
Apalagi kegiatan ini sangat mendukung bagi peningkatan PDO ICARE Sulawesi Utara. Dimana target PDO sebanyak 10800 petani yang dijangkau aset atau layanan pertanian dengan proporsi 2700 perempuan, 4500 pria, dan 3600 milenial.