Lanjut Pengumpulan Bahan Materi Lokalita, Tim KM Menggalinya dari Akademisi dan Praktisi
Airmadidi - Tim Knowledge Management ICARE BRMP Sulawesi Utara berburu bahan-bahan untuk penyusunan materi Lokalita di Kantor Kelurahan Rap-Rap (7/11).
Mengingat kegiatan ICARE Propinsi Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Minahasa Utara fokus pada dua komoditi, yaitu jagung dan kelapa.
Lydia Tulung, Suratini dan Dina Sulistyo Wibowo menggali informasi dari narasumber yang berasal dari UNSRAT dan BRMP Tanaman Palma pada SL Pendampingan INDOGAP Kelapa Jagung Program ICARE.
Dosen Fakultas Pertanian UNSRAT Jefta Pamandungan membawakan materi Teknik Budi Daya Pada Jagung. Sedangkan materi tentang kelapa disampaikan oleh Yulianus Matana dari BRMP Tanaman Palma.
Bertumpu pada standar, Jefta menyampaikan Teknis Budi Daya Jagung mulai dari perlakuan lahan, air, benih, pestisida, tenaga kerja, alat pertanian dan pengemasan serta penyimpanannya.
Keberadaan lahan bisa dilakukan tanpa pengolahan, tetapi pilihan terbaik menunjang produktivitas adalah dengan cara diolah. Untuk penyediaan benih berdasarkan asal yang jelas, yaitu varietas unggul. Apalagi benih yang disediakan oleh pabrikan.
Sedangkan dari segi alat tanam, baiknya menggunakan alat tanam (transplanter) untuk menunjang efisiensi kerja. Terkait umur panen, rekomendasi yang disampaikan adalah benih memiliki umur pendek, yaitu 4 bulan.
Sisa tanaman bisa dipergunakan untuk pupuk, mulsa organik, dan kompos. Pembakaran sisa tanaman sangat tidak dianjurkan, karena menimbulkan polusi, apalagi gangguan kesehatan.
Penggunakan pupuk dianjurkan dari usaha tani integrasi, dengan memanfaatkan kotoran ternak yang ada, baik milik sendiri maupun tetangga. Sedangkan penggunaan pupuk cair bisa memanfaatkan pertanaman di lingkungannya, seperti kelor, gamal sebagai POC (Pupuk Organik Cair).
Apalagi sisa tanaman bisa dipergunakan sebagai pupuk, dengan mengolahnya disertai penambahan EM4 untuk percepatan penguraiannya. Selain itu, bisa diganti dengan tanah tempat tumbuhnya bambu, yang ready bakteri baik bagi pertumbuhan dan pengendalian hama penyakit.
Penanganan hama penyakit yang dianjurkan berupa penggunaan pestisida nabati, seperti bawang putih, daun pepaya ataupun serai. Dan hama yang sering mampir di pertanaman jagung adalah ulat grayak.
Penanganan hama bisa memanfaatkan tanaman repelen atau penolak hama. Biasanya tanaman tersebut memiliki bau menyengat yang tidak disukai hama.
Terakhir, pada tahap penyimpanan sebaiknya menyediakan tempat khusus untuk menampung, agar terhindar dari pembusukan, yang diakibatkan oleh keberadaan kadar airnya.
Bahan-bahan penyusun materi lokalita selanjutnya diserap dari narasumber BRMP Tanaman Palma. Yulianus menyampaikan bahwa tanaman kelapa memiliki tiga jenis, meliputi kelapa dalam, genjah, dan hibrida.
Penggunaan jenis hibrida tidak semudah dengan kelapa dalam dan genjah. Maka dari itu, pembudi daya harus memastikan tujuan penanamannya dahulu.
Karena pemilihan jenis tanaman itu tergantung pada tujuannya. Apalagi kelapa bisa dipanen 2 bulan sekali, meski umumnya memakan waktu 3 hingga 4 bulan. Hal itu didasarkan pada penggunaan jarak tanam. Karena penggunaan jarak tanam bisa menentukan percepatan masa panennya.
Sedangkan untuk menunjang produktivitas, pembudi daya bisa memanfaatkan lahan di antara tanaman kelapa, dengan menempatkan tanaman sela. Keberadaan tanaman sela, yang memiliki umur pendek itu membutuhkan perawatan.
Perawatan seperti pemupukan akan berdampak pada tanaman utama, yaitu kelapa. Dan yang harus dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang bagus, harus fokus pada materi tempat hidup dan materi berupa tanamannya.