BRMP Sulut Perkuat Kapasitas UMKM Koperasi Binaan ICARE melalui Bimtek Pengemasan Produk
Minahasa Utara – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Utara (Sulut) terus mendorong peningkatan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Kapasitas UMKM Koperasi Binaan Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) yang dilaksanakan di Desa Warukapas, Kecamatan Dimembe, Minahasa Utara (Minut), Kamis (5/11).
Kegiatan ini diikuti oleh pelaku UMKM dan koperasi binaan ICARE dari Kecamatan Dimembe, Kauditan, dan Kalawat. Bimtek tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam menerapkan teknologi pengemasan serta memenuhi standar kemasan produk agar memiliki daya saing lebih tinggi di pasar.
Kegiatan dibuka secara langsung oleh Direktur Wilayah (Dirwil) BRMP Sulut, Steivie Karouw. Dalam kegiatan ini, BRMP Sulut menghadirkan dua narasumber dari Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Kota Manado, yaitu Yunita Assah dan Shinta Wahyu Apriani.
Dalam pemaparannya, Yunita Assah menjelaskan pentingnya penerapan teknologi pengemasan dan pelabelan untuk memperpanjang masa simpan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk agribisnis. Menurutnya, kemasan tidak hanya berfungsi melindungi produk dari kerusakan fisik, kontaminasi mikroorganisme, dan penurunan mutu akibat pengaruh lingkungan, tetapi juga berperan sebagai media pemasaran atau silent salesman yang memberikan informasi kepada konsumen.
Yunita juga menjelaskan bahwa pemilihan material kemasan, seperti plastik jenis Polyethylene (PE) dan Polypropylene (PP), kertas, kaca, serta logam, harus disesuaikan dengan karakteristik produk. Selain itu, penerapan teknologi pengemasan modern, seperti metode vakum menggunakan plastik yang sesuai, dapat membantu memperpanjang masa simpan produk olahan, khususnya produk dengan kadar air tinggi.
Sementara itu, Shinta Wahyu Apriani menekankan pentingnya memperhatikan aspek keamanan pangan, kehalalan bahan kemasan, serta efisiensi biaya produksi. Ia mengingatkan pelaku UMKM agar menentukan kemasan secara tepat dan tidak berlebihan (over-packaging) sehingga biaya pengemasan tetap seimbang dengan Harga Pokok Produksi (HPP).
Shinta juga mendorong peserta menerapkan tiga langkah praktis dalam meningkatkan kualitas kemasan, yaitu memverifikasi spesifikasi pemasok (supplier), melakukan pengujian ketahanan kemasan secara internal (stress test), serta menghitung dan mengkalibrasi kembali HPP secara cermat. Pemilihan material yang tepat, termasuk plastik PE, PP, dan kemasan komposit multilapis, menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas produk selama proses penyimpanan dan distribusi.
Melalui materi tersebut, peserta diharapkan mampu mengembangkan kemasan produk unggulan daerah, seperti rica roa, keripik, dan woku beku (frozen food), agar memiliki tampilan lebih menarik, memenuhi standar keamanan produk, serta mampu menjangkau pasar yang lebih luas hingga tingkat nasional. Penerapan teknologi pengemasan yang tepat juga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk UMKM lokal.
Melalui kegiatan ini, BRMP Sulut berkomitmen mendukung penguatan koperasi dan UMKM binaan ICARE melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan teknologi, serta pengembangan produk bernilai tambah. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing UMKM, mendorong hilirisasi komoditas pertanian, dan meningkatkan perekonomian masyarakat di wilayah Minut.